Home » , , » Ketika Nyawa Manusia Dianggap “Kacang Goreng”, Dan Menakar Nyali ABK Feri dan SAR Danau Toba

Ketika Nyawa Manusia Dianggap “Kacang Goreng”, Dan Menakar Nyali ABK Feri dan SAR Danau Toba

Written By jambipos-online on Rabu, 20 Juni 2018 | 10:33

Catatan Tenggelamnya KM Sinar Bangun
KM Dame Milik Warga Hutaimbaru saat sandar di Haranggaol saat libur lebaran. (Dok Asenk Lee Saragih-2014)
Jambipos Online, Peristiwa pilu tenggelamnya KM Sinar Bangun yang diduga mengangkut sekitar 200 penumpang Senin (18/6/2018) sore itu sungguh miris. Bahkan pihak pengelola kapal sudah menakar nyawa manusia semisal kacang goreng belaka. Bahkan Tim SAR Danau Toba dan para nahkoda kapal tak memiliki “darah” berani ambil resiko untuk menyelamatkan orang lain.   

Melihat video rekaman penumpang dari dua kapal feri yang berbeda dari penyebarangan Pelabuhan Tigaras, Simalungun, Simanindo Samosir yang lagi viral itu, rasanya hati ini tersayat bercampur geram melihat situasi itu. 

Bayangkan saja, feri tak memiliki sekoci dan sejumlah peralatan penolong lainnya. Tak hanya itu nyali dari para ABK juga “tak berani” melawan derasnya geombang Danau Toba. Betul-betul memilukan. Bahkan satu feri meninggalkan korban yang berenang megab-megab meminta pertolongan. Sungguh miris dan bahkan tampai meneteskan air mata melihat video itu.

ABK feri yang meninggalkan para korban itu sungguh keterlaluan. Tak ada upaya maksimal untuk memberikan pertolongan. ABK-ABK seperti ini harus dievaluasi pihak terkait. “Campakkan” ABK itu ke  Danau Toba, biar dia juga bisa merasakan bagaimana perjuangan berenang dan meminta pertolongan kepada orang lain.

Peristiwa KM Sinar Bangun mengingatkan saya saat usia kelas 1SD, peristiwa serupa tenggelamnya kapal dari Simanindo hendak menuju Pekan Haranggaol, Simalungun medio 1986 silam. Penyebab musababnya karena kelebihan muatan mengangkut bawang yang hendak dibawa ke Pekan Haranggaol. 

Kala itu, Pekan Haranggaol sebagai pusat perdagangan di sekeliling Danau Toba. Bahkan saya sendiri sudah mengalami bagaimana rasanya jantung bergetar disaat kapal Bintang Timur dari Desa Nagori Purba dan Hutaimbaru kampung saya menuju pekan Haranggaol saat gelombang tinggi. 

Kepiawaian dan nyali nahkoda kapal dan ABK sangat menentukan bisa tidaknya kapal sandar ke tempat tujuan. Kapal kayu penuh penumpang yang diombang ambingkan gelombang sudah hal biasa. Pasalnya semua penumpang adalah warga pesisir yang sudah biasa dengan kondisi itu. 

Bagi kami, gelombang Danau Toba sudah menjadi sahabat dan kehidupan kami. Saya sendiri sejak usia kelas 1 SD sudah akrab dengan gelombang tinggi Danau Toba. Setidaknya ada dua kapal kayu motor ukuran sejenis  KM Sinar Bangun dari kampung saya dan desa tetangga (Hutaimbaru dan Nagori Purba). KM itu bermerak “Bintang Timur” dan KM Dame”.  

Tingginya gelombang Danau Toba saat pekan Haranggaol (setiap hari Senin dan Kamis) kala itu harus dilalui demi menjual hasil bumi. Kalau tidak ke pekan, akan terancam beli Sembako. Karena saat itu transportasi utama dan satu-satunya hanyalah kapal kayu motor.

Saat kapal menghadapi gelombang tinggi di Danau Toba, ada syarat atau ritual mitos yang dilakukan para orang tua yang saat itu berada dalam kapal. Mitos itu sudah menjadi budaya adalah memberikan “Demban” Sirih kepada nahkoda kapal. Kemudian menjatuhkan Demban ke Danau Toba.

Hal ini dinyakini sebagai penguatan mental dan kesabaran nehkoda kapal dalam mengendalikan kapal yang tengah diombang ambing gelombang besar hingga selamat sampai tujuan dan juga agar Danau Toba tetap bersahabat dengan penumpang kapal. 

Bahkan pernah sekali saya ikut mengalami, kipas kapal tersangkut sampah plastik di Tuktuk Sipalu (Teluk Haranggaol). Tuktuk Sipalu ini tergolong “angker” saat gelombang tinggi. 

Namun ABK kapal langsung buka baju dan menyebur ke danau dan menyelam ke bawah kapal untuk membersihkan kipas yang tersangkut sampah plastik itu. Hal itu demi keselamatan jiwa-jiwa penumpang itu. Hebatnya lagi, nahkoda kapal di kampung saya itu tak pernah bersekolah nahkoda, mereka hanya belajar secara otodidak dan berguru dari Gelombang Danau Toba. 

Bagi anak pesisir Danau Toba seperti saya, kala itu, gelombang Danau Toba sudah menjadi sahabat. Tinggal nahkoda kapal bagaimana mengikuti jalur “Tampul Sihalanya”. Tampul Sihala adalah salah satu taktik nahkoda kapal menyusuri gelombang tinggi Danau Toba. Bahkan ibunda saya (Anta Br Damanik) asal Urung Bayu, Tigarunggu, Simalungun hingga berpuluh tahun tinggal di Hutaimbaru tak pernah takut naik kapal, walau dirinya tak tahu berenang. Namun tetap bersahabat dengan tingginya gelombang Danau Toba saat menuju pekan Harangaol dari Hutaimbaru. 

Peristiwa KM Sinar Bangun yang memilukan banyak keluarga ini, mengetuk hati saya untuk menulis, bersuara, menggugah pihak terkait untuk membenahi transportasi Danau Toba. Sebab KM Sinar Bangun beda dengan kapal-kapal dan penumpang dari penduduk sekeliling Danau Toba dimasanya. 

Jalur Tigaras-Simanindo adalah lintasan Danau Toba untuk berwisata dan kebanyakan penumpang kapal bukan warga pesisir Danau Toba. Bahkan banyak dari penumpang yang belum tentu bisa berenang. 

Peristiwa KM Sinar Bangun, juga membukakan mata kita, bahwa nyawa orang tak sebarap bagi pengelola kapal. Bahkan pengelola kapal tak mempersoalkan kelebihan muatan, yang penting menangguk rezeki sebanyak-banyaknya saat musim liburan tiba.

Kembali melihat nyali para Nahkoda, ABK dan SAR Danau Toba yang kurang “bertaruh nyawa”. Bayangkan saja disaat puluhan orang berjuang berenang mencari pertolongan menuju kapal feri, tak satupun kapal SAR yang meluncur ke sekitar feri untuk membantu melemparkan pelampung kepada korban yang berjuang berenang menuju kapal feri. 

Bahkan ada feri sengaja meninggalkan para korban yang bertarung nyawa meminta pertolongan. Tak hanya itu, Tim SAR juga menghentikan pencarian korban dengan alasan cuaca buruk, padahal puluhan manusia masih dalam berserak di danau teriak meminta pertolongan akibat kapal yang mereka tumpangi tenggelam.

Seganas-ganasnya gelombang Danau Toba saat ini, tak seganas gelombang tinggi tahun 1986 silam dan bisa dilalui dengan selamat. Kini teknologi sudah canggih, dan anggaran sudah memadai. Namun peristiwa ini sungguh memiriskan semua pihak yang sepele terhadap nyawa manusia. Semoga Peristiwa Terakhir Terjadi di Danau Toba. Kepada Para Korban, Turut Berdukacita dan Tabah Dalam Menghadapi Peristiwa Memilukan Ini. Akhir Kata Ganti Seluruh ABK Feri di Danau Toba. (Anak Danau Toba-Asenk Lee Saragih) 


Share this article :

Posting Komentar