JAMBI-Dapur "Mak Moses" sebuah Warung Kuliner Khas Simalungun dan Danau Toba "ala rumahan" digital yang menerima pesanan khusus Kuliner Khas Simalungun "Panggang Dayok Binatur" dan Ikan Nila Tinombur Khas Danau Toba. Dimasak dengan bumbu rempah tradisional dan ramah dengan selera khas Batak. Sudah beroperasi selama 10 tahun dengan dapur digital "warung rumahan".
Dimasak di dapur yang sederhana namun tetap menjaga higeanis masakan dan kebersihan. Pemesanan bisa lewat nomor yang tertera pada Benner. Harga 1 Porsi "Panggang Dayok Binatur" Rp 200.000, ukuran Ayam Kampung Asli Jantan ukuran 1,4 Kg.
Sementara Harga " Ikan Nila Tinombur" Rp 50.000/Porsi ukuran 500 Gram. Diharapkan Pemesanan Jauh Hari Sebelum Agar Bisa Dipersiapkan Tepat Pada Waktu Santapnya. Terimakasih Bagi yang Sudah Pesan Sebelumnya. Tuhan Memberkati. (AsenkLeeSaragih)
Suara USU, Medan. Indonesia, dengan keberagaman budayanya, kaya akan kuliner tradisional yang menyimpan makna filosofis. Salah satunya adalah Dayok Nabinatur, hidangan ayam khas Simalungun, Sumatera Utara. Lebih dari sekadar santapan lezat, Dayok Nabinatur merupakan simbol kekuatan adat dan spriritualitas, yang hadir dalam berbagai momen penting kehidupan masyarakat Simalungun, baik dalam suka maupun duka.
Secara harfiah, “Dayok Nabinatur” berarti “ayam yang ditata”. Penataan ayam dilakukan secara utuh dan penuh makna, karena setiap bagiannya memiliki simbolisme tersendiri. Kepala ayam melambangkan pemimpin atau sesepuh yang menjadi panutan. Sayap menggambarkan kekuatan dan semangat mencapai tujuan, sementara paha mencerminkan keteguhan dan keberanian. Hati dan ampela yang diletakkan di tengah menjadi simbol pusat kehidupan dan rezeki.
Dalam adat pernikahan Simalungun, Dayok Nabinatur disajikan sebagai bentuk syukur dan doa restu bagi kedua mempelai, dengan harapan membawa keberkahan, keharmonisan, dan keturunan yang baik. Hidangan ini juga menjadi simbol penghormatan kepada pihak besan, sekaligus pengikat tali persaudaraan antarkeluarga.
Sebaliknya, dalam ritual kematian, Dayok Nabinatur disuguhkan sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi mendiang. Maknanya adalah pengantar arwah agar diterima di sisi Tuhan. Di sisi lain, Hidangan ini juga menjadi bentuk penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan, mengingatkan mereka akan kekuatan komunitas dan keberlanjutan hidup.
Dayok Nabinatur dibuat dari ayam kampung muda yang dimasak dengan bumbu khas Simalungun. Proses memasaknya memerlukan ketelitian dan kesabaran. Bumbu yang digunakan antara lain andaliman (rempah khas Batak), cabai merah, bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, lengkuas, serai, dan daun jeruk. Semua bumbu dihaluskan dan ditumis hingga harum, lalu dimasukkan ke dalam perut ayam yang telah dibersihkan. Ayam kemudian direbus atau dikukus hingga empuk dan bumbunya meresap.
Dari segi rasa, Dayok Nabinatur menawarkan perpaduan pedas, gurih, dan sedikit asam, dengan sensasi getir dari andaliman yang menjadi ciri khas. Teksturnya lembut karena proses memasak yang lama, dan bumbu yang melimpah membuat setiap suapan terasa lembap dan kaya rasa.
Tampilan Dayok Nabinatur juga istimewa. Ayam yang disajikan utuh di atas nampan besar, dengan bumbu yang melumuri seluruh permukaan tubuhnya. Kadang dihiasi dengan irisan cabai merah, bawang, atau daun bawang untuk memperindah visualnya. Penataan ini mencerminkan makna dari “nabinatur”, yakni keteraturan dan kesempurnaan.
Di masyarakat Simalungun, hidangan ini juga dikenal dengan nama “Dayok Binatur” atau “Manuk Binatur”, yang memiliki arti serupa. Penyajian utuh dengan bumbu rempah diatas nampan bukan sekadar estetik, tetapi merupakan ritual yang melambangkan kelengkapan dan harapan akan keberkahan hidup.
Secara historis, Dayok Nabinatur telah ada sejak berabad-abad lalu, jauh sebelum Simalungun menjadi bagian dari Indonesia modern. Awalnya, hidangan ini digunakan dalam persembahan kepada roh leluhur dan dewa sebagai wujud syukur atau permohonan. Seiring perkembangan zaman dan masuknya agama-agama baru, peran Dayok Nabinatur disesuaikan dengan nilai-nilai keagamaan, namun tetap mempertahankan makna simbolisnya.
Lebih dari sekadar makanan, Dayok Nabinatur adalah warisan budaya yang diturunkan lintas generasi. Proses pembuatannya yang rumit sering melibatkan keluarga besar, sehingga menjadi ajang silaturahmi dan pembelajaran nilai-nilai seperti gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap leluhur.
Pemilihan ayam kampung memiliki alasan tersendiri. Selain rasa yang gurih dan tekstur yang padat, ayam kampung melambangkan kesederhanaan, ketahanan, dan kearidan lokal. Proses memasak tradisional dengan bumbu segar dan api kayu menambah kekhasan dan keautentikan rasa Dayok Nabinatur.
Keberadaan Dayok Nabinatur kini juga menarik minat wisatawan yang ingin mengenal budaya Batak lebih dalam. Banyak koki dan pegiat kuliner mulai mempromosikan hidangan ini ke tingkat nasional, bahkan internasional. Upaya ini penting untuk menjaga agar resep kuno dan makna filosofisnya tetap hidup dan dikenal oleh generasi masa depan.
(Sumber: Redaktur: Nisya Augia)
Galeri Foto yang Pesan Panggang Dayok Binatur dan Nila Tinombur
| Ayahanda St Berlin Manihuruk-Hutaimbaru. |
| Ibunda Anta Br Damanik-Hutaimbaru. |
![]() |
| Nila Tinombur |
![]() |
| Nila Tinombur |



























.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpeg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)









.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpg)
.jpg)
.png)
.jpg)
.jpg)
.jpeg)
















0 Komentar
Komentar Dilarang Melanggar UU ITE