Jambipos Online, Jambi- Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kota Jambi. Hingga Jumat pagi, 4 September 2026, kondisi udara masih menjadi perhatian serius karena kualitas udara belum menunjukkan kondisi yang aman untuk aktivitas masyarakat, khususnya anak-anak usia sekolah. Aroma asap semakin menusik hidung dan membuat mata perih.
Pekatnya kabut asap tidak hanya mengubah jarak pandang dan aktivitas warga di luar ruangan. Dampaknya telah merambah ke ruang-ruang pendidikan. Selama lebih dari sepekan, sebagian besar aktivitas belajar mengajar di Kota Jambi dialihkan dari ruang kelas ke rumah melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau dalam jaringan (daring).
Kebijakan tersebut menjadi konsekuensi langsung dari memburuknya kualitas udara. Pemerintah Kota Jambi sebelumnya menghentikan sementara pembelajaran tatap muka untuk jenjang PAUD/TK, SD dan SMP. Kebijakan kemudian diperpanjang hingga 4 September 2026 karena kualitas udara masih berada pada kategori sangat tidak sehat.
Kabut asap karhutla bukan sekadar persoalan jarak pandang. Partikel pencemar berukuran sangat kecil yang terdapat dalam asap dapat masuk ke sistem pernapasan dan menjadi ancaman kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak.
Kondisi inilah yang membuat pembelajaran tatap muka dipandang memiliki risiko ketika kualitas udara belum membaik.
Pemerintah Kota Jambi memilih memperpanjang PJJ sebagai langkah pencegahan. Surat Edaran Wali Kota Jambi Nomor 25 Tahun 2026 mengatur perpanjangan pembelajaran dari rumah hingga 4 September 2026 atau sampai kondisi udara dinyatakan aman.
Kebijakan tersebut mengacu pada hasil pemantauan Stasiun Air Quality Monitoring System (AQMS) Provinsi Jambi yang menunjukkan kualitas udara masih fluktuatif dan berada pada kategori sangat tidak sehat.
Dengan demikian, sekolah tidak benar-benar berhenti melakukan kegiatan pendidikan. Ruang kelas hanya berpindah sementara ke rumah masing-masing siswa.
Guru tetap menjalankan proses pembelajaran melalui berbagai platform digital, sementara orang tua mengambil peran lebih besar dalam memastikan anak mengikuti kegiatan belajar.
Lebih dari Sekadar Memindahkan Kelas ke Rumah
Bagi sebagian keluarga, belajar daring mungkin dapat dilakukan dengan relatif mudah. Namun, bagi keluarga lainnya, PJJ menghadirkan persoalan baru. Ketersediaan telepon pintar, komputer, kuota internet hingga kualitas jaringan menjadi faktor yang menentukan keberlangsungan pembelajaran.
Persoalan tersebut terlihat di wilayah sekitar Muaro Jambi. Sejumlah siswa, terutama yang tinggal di kawasan pelosok Kecamatan Mestong, mengalami kendala akses internet ketika mengikuti pembelajaran daring. SMA Negeri 3 Muaro Jambi bahkan telah menerapkan pembelajaran dari rumah akibat kondisi udara yang tidak sehat.
![]() |
| Kabut asap di Kota Jambi, Jumat pagi (4/9/2026). (Foto: AsenkLeeSaragih) |
Artinya, kabut asap menciptakan persoalan berlapis. Di satu sisi, siswa harus dijauhkan dari paparan udara buruk. Di sisi lain, mereka harus tetap mendapatkan hak pendidikan secara optimal.
Situasi tersebut menuntut sekolah dan orang tua untuk beradaptasi. Guru harus memastikan materi tetap tersampaikan. Orang tua harus membantu mengawasi proses belajar. Sementara siswa dituntut tetap disiplin meskipun tidak berada di dalam ruang kelas.
Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan siswa PAUD hingga SMP. Di tingkat pendidikan menengah, pembelajaran daring juga diberlakukan di sejumlah wilayah terdampak.
Dinas Pendidikan Provinsi Jambi memperpanjang PJJ untuk SMA/SMK di Kota Jambi, Muaro Jambi dan Batanghari pada 3-4 September 2026. Keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan kondisi ISPU serta adanya perhatian terhadap peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Dengan kebijakan tersebut, aktivitas pendidikan di sejumlah wilayah Jambi praktis harus menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan.
Sekolah yang biasanya dipenuhi aktivitas siswa pada pagi hari berubah menjadi ruang yang relatif sepi. Sementara dari rumah, siswa mengikuti pelajaran melalui layar telepon seluler atau komputer.
Bagi dunia pendidikan, kondisi ini menjadi pengingat bahwa bencana lingkungan dapat berdampak langsung terhadap proses belajar generasi muda.
Orang Tua Menghadapi Beban Tambahan
Perpindahan pembelajaran dari sekolah ke rumah juga mengubah pola aktivitas keluarga. Orang tua tidak hanya memastikan kebutuhan anak sehari-hari, tetapi juga dituntut membantu mengawasi jadwal belajar. Pada saat yang sama, anak-anak diminta mengurangi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara belum membaik.
Pemerintah Kota Jambi juga mengimbau orang tua untuk mengawasi kedisiplinan belajar sekaligus membatasi aktivitas anak di luar ruangan. Sekolah diminta melakukan pemantauan dan pelaporan kondisi pembelajaran serta kesehatan siswa selama masa PJJ.
Situasi ini memperlihatkan bahwa penanganan kabut asap bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas pemadam karhutla.
Sekolah, guru, orang tua dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam mengurangi dampak terhadap anak-anak.
Asap dan Ancaman Hilangnya Aktivitas Normal
Selama kabut asap belum benar-benar teratasi, aktivitas masyarakat akan terus berada dalam kondisi tidak normal. Sekolah menjadi salah satu sektor yang paling terlihat dampaknya. Setelah sebelumnya kegiatan tatap muka dihentikan selama beberapa hari, kebijakan kembali diperpanjang.
Hal tersebut menunjukkan bahwa persoalan karhutla tidak selesai hanya dengan memadamkan titik api di lokasi tertentu. Ketika asap terbawa angin dan menyelimuti kawasan permukiman, dampaknya dapat dirasakan jauh dari lokasi kebakaran.
Kota Jambi menjadi salah satu wilayah yang merasakan konsekuensi tersebut. Bahkan, data pemerintah menunjukkan kualitas udara sempat mencapai kategori sangat tidak sehat. Pada 25 Agustus 2026 sekitar pukul 22.00 WIB, pemantauan kualitas udara Kota Jambi mencatat AQI US sebesar 213 dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 137,3 mikrogram per meter kubik.
Angka tersebut memberikan gambaran betapa seriusnya tekanan kualitas udara yang dihadapi masyarakat. Hingga Jumat pagi, 4 September 2026, perhatian utama masyarakat masih tertuju pada satu pertanyaan: kapan sekolah dapat kembali normal?
Jawabannya sangat bergantung pada perkembangan kualitas udara. Pemerintah Kota Jambi telah menegaskan bahwa pembelajaran tatap muka akan kembali dipertimbangkan setelah kondisi udara dinyatakan aman. Artinya, keputusan membuka kembali sekolah tidak semata-mata berdasarkan kalender pendidikan, tetapi juga mempertimbangkan keselamatan dan kesehatan peserta didik.
Di tengah kondisi tersebut, PJJ menjadi pilihan sementara untuk menjaga agar proses pendidikan tetap berjalan tanpa memaksa anak-anak berada di lingkungan dengan kualitas udara yang buruk.
Namun, pembelajaran daring tetap bukan solusi permanen. Sekolah tetap membutuhkan ruang belajar yang normal. Anak-anak membutuhkan interaksi langsung dengan guru dan teman sebaya. Guru juga membutuhkan ruang kelas untuk menjalankan proses pendidikan secara optimal.
Karena itu, berakhirnya PJJ pada akhirnya sangat bergantung pada keberhasilan penanganan karhutla dan pemulihan kualitas udara.
Karhutla Bukan Hanya Persoalan Api
Kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi memperlihatkan satu hal penting: dampak karhutla jauh lebih luas daripada sekadar wilayah yang terbakar.
Ketika asap masuk ke kota, persoalannya berubah menjadi persoalan kesehatan publik, pendidikan, ekonomi dan aktivitas sosial masyarakat.
Sekolah harus ditutup sementara. Guru harus mengubah metode mengajar. Orang tua harus mendampingi anak belajar dari rumah. Anak-anak harus mengurangi aktivitas di luar ruangan. Semua itu merupakan efek berantai dari persoalan yang bermula dari kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, penanganan karhutla membutuhkan langkah yang tidak hanya berorientasi pada pemadaman api, tetapi juga pencegahan, penegakan aturan, pemantauan kualitas udara dan perlindungan masyarakat.
Bagi anak-anak Kota Jambi, harapannya sederhana, dapat kembali ke sekolah, belajar di ruang kelas, bermain bersama teman dan menjalani aktivitas seperti biasa.
Tetapi selama asap masih pekat dan udara belum aman, keselamatan tetap harus menjadi prioritas utama. Sebab pendidikan memang tidak boleh berhenti, tetapi kesehatan anak-anak juga tidak boleh dipertaruhkan.(JPO-AsenkLeeSaragih)
.jpeg)
.jpeg)
0 Komentar
Komentar Dilarang Melanggar UU ITE