Jambipos Online, Jambi- Puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September 2026 mulai menunjukkan dampak nyata di Provinsi Jambi. Debit air di Sungai Batanghari beserta sejumlah anak sungainya terus mengalami penyusutan, memicu kekhawatiran terhadap ancaman krisis air bersih sekaligus meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena berkurangnya cadangan air tidak hanya berdampak terhadap kebutuhan masyarakat, tetapi juga menghambat upaya penanggulangan kebakaran yang kerap meningkat pada musim kemarau.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah, kepada wartawan mengatakan, tren penurunan debit sungai harus diwaspadai mengingat musim kemarau diprediksi masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
"Jika kondisi ini terus berlanjut, ancaman kekeringan, krisis air bersih hingga sulitnya pemadaman kebakaran hutan dan lahan menjadi persoalan yang harus dihadapi masyarakat," ujar Bachyuni kepada wartawan, Kamis (6/8/2026).
Menurut Bachyuni, penyusutan debit air tidak hanya terjadi di Sungai Batanghari, tetapi juga mulai terlihat di kawasan Batang Tembesi, Kabupaten Sarolangun.
Menurunnya volume air sungai dikhawatirkan akan menyulitkan petugas dalam memperoleh pasokan air saat melakukan pemadaman kebakaran, terutama di kawasan lahan gambut yang memiliki karakter mudah terbakar dan sulit dipadamkan.
"Semakin sedikit cadangan air, semakin sulit petugas memperoleh sumber air untuk memadamkan api," katanya.
Ia menjelaskan, surutnya permukaan sungai juga berdampak pada penurunan tinggi muka air tanah. Kondisi tersebut menyebabkan lahan menjadi lebih kering sehingga lebih mudah terbakar ketika terpapar panas maupun akibat aktivitas manusia.
Lahan gambut yang mengering dinilai memiliki tingkat kerawanan tinggi karena api dapat merambat hingga ke lapisan bawah tanah dan sulit dipadamkan. Dalam kondisi seperti ini, proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama serta ketersediaan air dalam jumlah besar.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi musim kemarau tahun 2026 di Provinsi Jambi berlangsung lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis selama 30 tahun terakhir.
Kondisi tersebut diperkirakan semakin diperparah oleh potensi penguatan fenomena El Nino pada periode Agustus hingga Oktober 2026 yang berpotensi mengurangi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia, termasuk Jambi.
Menghadapi situasi tersebut, Pemerintah Provinsi Jambi mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijaksana dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.
BPBD juga mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan di kawasan kering, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sejak dini.
Di sisi lain, pemerintah bersama Satgas Karhutla terus memperkuat langkah-langkah pencegahan melalui patroli darat, pemantauan titik panas (hotspot), sosialisasi kepada masyarakat, serta koordinasi lintas instansi guna meminimalkan potensi kebakaran yang lebih luas.
"Selama musim kemarau ini, pencegahan jauh lebih penting agar kebakaran tidak terus meluas," tegas Bachyuni.
Memasuki puncak musim kemarau, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dinilai menjadi kunci untuk mengurangi risiko bencana.
Upaya penghematan air, kepatuhan terhadap larangan membakar lahan, serta kesiapsiagaan seluruh pihak diharapkan mampu menekan dampak kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan yang setiap tahun menjadi ancaman serius di Provinsi Jambi.(JPO-AsenkLee)

0 Komentar
Komentar Dilarang Melanggar UU ITE