Jambipos Online, Jambi- Aroma asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai tercium di sejumlah wilayah Kota Jambi, Jumat malam ( 7/8/2026). Meski kabut asap masih tergolong tipis dan kualitas udara berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) masih berada pada kategori baik, kemunculan asap menjadi sinyal awal meningkatnya ancaman karhutla di Provinsi Jambi seiring memasuki puncak musim kemarau.
Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat mulai merasakan perubahan kondisi udara, terutama pada pagi dan sore hari. Lapisan kabut tipis terlihat menyelimuti sebagian wilayah kota, disertai aroma asap yang mulai tercium meski belum menyengat.
Sebagian warga memilih menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan sebagai langkah antisipasi. Kekhawatiran masyarakat bukan tanpa alasan. Pengalaman kabut asap hebat pada 2015 dan 2019 masih membekas dalam ingatan warga Jambi karena sempat melumpuhkan aktivitas, mengganggu transportasi, hingga menyebabkan lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Ancaman Meningkat Seiring Kemarau
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi menyebut potensi karhutla masih tergolong tinggi. Hingga akhir Juli 2026, luas lahan yang terbakar di Provinsi Jambi tercatat mencapai sekitar 222 hektare yang tersebar di sejumlah kabupaten.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga akhir September, bahkan berpotensi berlanjut sampai Oktober. Vegetasi yang semakin kering membuat api kecil sekalipun dapat berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar apabila tidak segera ditangani.
Pemerintah Provinsi Jambi juga telah menetapkan status siaga darurat karhutla untuk memperkuat langkah pencegahan dan penanganan selama musim kemarau berlangsung.
Kualitas Udara Masih Baik, Namun Jangan Lengah
Meski secara visual kabut asap mulai tampak, data ISPU Kota Jambi masih menunjukkan kualitas udara berada dalam kategori baik. Parameter pencemar seperti PM2.5, PM10, sulfur dioksida (SO₂), karbon monoksida (CO), dan nitrogen dioksida (NO₂) masih berada di bawah ambang batas yang membahayakan kesehatan.
Namun demikian, para ahli mengingatkan bahwa perubahan arah angin, bertambahnya titik api, maupun meningkatnya intensitas kebakaran dapat menyebabkan kualitas udara memburuk dalam waktu singkat.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan menjadi pihak yang paling berisiko apabila konsentrasi asap terus meningkat. Paparan partikel halus dalam jangka waktu lama dapat memicu gangguan pernapasan, iritasi mata, hingga menurunkan daya tahan tubuh.
Pencegahan Menjadi Kunci
Pemerintah terus mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta menghindari aktivitas yang dapat memicu munculnya api, termasuk membuang puntung rokok sembarangan di kawasan kering.
Penanganan karhutla dinilai tidak cukup hanya mengandalkan aparat. Partisipasi masyarakat dalam melaporkan titik api sejak dini dan menjaga lingkungan menjadi faktor penting untuk mencegah meluasnya kebakaran.
Dengan kondisi cuaca yang diperkirakan masih kering dalam beberapa pekan ke depan, kewaspadaan seluruh pihak menjadi langkah utama agar Jambi tidak kembali mengalami bencana kabut asap seperti yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.(JPO-AsenkLeeSaragih)

0 Komentar
Komentar Dilarang Melanggar UU ITE